SAATNYA MENAHAN DIRI DALAM PUASA

Barangkali secara teknis puasa itu bukan ibadah yang terlalu berat, orang sudah sedemikian terlatih dengan puasa, sehingga menjadikan puasa sebagai sarana penghayatan pada penderitaan kemanusian semakin menipis. Tetapi secara substantife ibadah puasa menjadi berat kalau puasa di maksudkan sebagai upaya menahan diri dari nafsu dan kemunkaran.

Jauh sebelum puasa datang para pebisnis, baik di bidang barang & jasa baik trasportasi dan hiburan telah begitu gencar menyambutnya, ketika para soimin (orang-orang ang berpuasa) belum siap menjalankan. Belun lagi nanti pertengahan Ramadhan para pebisnis telah menawarkan paket baru dengan berbagai tawaran mobil dan rumah mewah untuk lebaran. Kalangan penbisnis di bidang jasa menawarkan berbagai paket wisata dan hiburan mahal yang ditawarkan pada para Muslimin.

Apapun kemewahan yang dilakukan adalah hasil pengerukan terhadap surber daya alam, karena manusia konsumtif, maka seluruh tambang di kuras, hutan dibabat dan kekayaan laut di sedot. Kemewahan hidup akan selalu membebani alam &ling lingkunga hidup, sehingga terjadi banjir, longsor, gelombang badai & sebagainya. Sementara itu secara sosial akan menciptakan kesejangan dan ketidakadilan yang memicu ketegangan antar kelas & kelompok yang bisa menimbulkan konflik. Secara politik hal itu juga akan membebani Negara, sebab kemewahan tidak mungkin di biayai hanya dengan gaji, maka harus di biayai dengan korupsi. Negara menjadi keropos karena didorongrong korupsi yang dilakukan para pejabat dan pengusaha.

Puasa diharapkan mampu mengatasi problem manusia modern, yakni kerusakan lingkungan alam, disfungsi pemerintah dan Negara dan ketegangan lingkungan social. Ini bisa melalui tindakan pribadi, tetapi harus berkembang menjadi kesadaran kelompok, agar bisa menjadi gerakan massa yang memiliki pengaruh. Bila ini bisa dilakukan maka perubahan besar akan terjadi melalui media puasa ini.
Sementara seperti yang selama ini terjadi justru selama bulan puasa itu kebutuhan konsumsi meningkat, bukan masa bertirakat, tetapi menjadi ajang pesta. Puasa hanya memang dilakukan di siang hari. Tetapi lihat pada malam hari, buka bersama yang mewah diselenggarakan di mana-mana. Di pasar-pasar menunjukan selama bulan ini kebutuhan barang menjadi meningkat tajam, sampai lebaran, sehingga pemerintah dan pedagang harus gigih menyediakan barang kebutuhuan. Pada sore dan malam hari supermarket penuh para pebelanja.

Puasa di siang hari dan beribadah dimalam hari hanya menjadi tradisi masa lalu, diganti dengan tradisi berpesta puasa. Dari situ penghayatan terhadap makna puasa menjadi menipis, puasa hanya menjadi rutinitas yang kurang berarti. Persoalannya bagaimana umat diajak untuk kembali memahami ajaran puasa sesuai dengan sunnah nabi dan shahabatnya serta para ulama.karena itu telah kembali terhadap ajaran islam tentang puasa itu sangat penting agar kaum muslimin bisa berpuasa sebagaimana mestinya, puasa yang mampu tanha anil fakhsya wal munkar (menghindari kerusakan dan kemungkaran) dengan segala amalan yang mesti di jalankan, sebagaimana nabi dan shahabat berpuasa.****

0 komentar:

Posting Komentar